Sudah hampir 6 tahun, aku dan kamu disatukan di sekolah yang sama. Berawal dari Menengah Pertama, tempat dimana aku dipertemukan denganmu, diperkenalkan dengan kepribadianmu, disatukan dalam satu perorganisasian.
Aku ingat pertama kali kamu membuatku tersenyum. Tingkah lugu seorang anak humoris dengan kacamata minus 1,5. Banyak hal yang telah aku lewati denganmu disana. Senang sedih suka duka tertawa bahagia menangis terharu. Semua rasa itu lengkap ketika aku sadari kamu telah berhasil memasuki ruang kecil dalam hati.
Semenjak itu kamu benar-benar tak bisa hilang dalam fikiranku.
Aku kira, perasaan ini hanya akan bertahan sebentar. Namun aku salah. Selama tiga tahun aku bersekolah, hatiku telah memilihmu. Ia telah memutuskan untuk berjuang menyentuh hatimu dan bersarang di fikiranmu. Tapi semua itu tak semudah seperti yang aku bayangkan. Aku sadar, kami adalah dua orang yang berdeda.
Aku menunggumu lama sekali, sedangkan tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar. Perpisahan akan segera datang, dan aku tak tahu apa jadinya aku melewati hari-hari tanpa kamu. Meskipun aku hanya bisa memandangimu dari dalam kelas, melihatmu bercanda dengan teman wanitamu, bahkan aku dengar salah satu dari mereka telah menjadi kekasihmu.
Salahkah aku bila aku cemburu? Walaupun aku bukan bagian dari hidupmu. Mungkin aku hanya hadir sebagai pemain figuran dalam ceritamu, bahkan mungkin kamu menganggapku hanya sebatas "kenal" saja.
Wisuda berjalan begitu cepat. Pertanyaan demi pertanyaan mulai muncul dalam benakku. Akan seperti apa kamu disana? Apakah nanti di sekolah baru kamu akan mendapat seseorang seperti aku? Akankah dia mengagumimu seperti aku? Apakah dia akan menunggumu seperti yang aku lakukan padamu? Jika itu benar terjadi, tolong. Jangan abaikan dia.
Tapi akhirnya, Tuhan menyatukan kami kembali dalam satu lingkungan sekolah yang sama. Semua pertanyaan itu aku simpan kembali, untuk suatu hari nanti. Sampai saat ini perasaanku padanya tak pernah berubah. Semakin hari semakin sering aku bertemu dengannya, semua rasa itu bertumbuh semakin besar.
Namun kali ini, tak hanya perasaanku yang betumbuh, pribadi dalam diriku ikut berubah. Mereka bilang aku semakin baik, bahkan jauh lebih baik dari diriku yang lalu. Ya. Akupun merasa. Ini kekuatan ini dari Tuhan, dan dirinya.
Yang aku yakini bisa membuatku lebih berarti dari siapapun.
Akan ada saatnya dimana aku dan kamu akan dipisahkan lagi. Dan kali ini pertanyaan itu aku keluarkan kembali. Entah siapa nanti yang akan menjawab, tapi terima kasih.
Hari ini adalah hari kelulusan untuk sekolah kami. Dimana kami akan memulai hidup baru atau sekedar melanjutkan yang sudah ada. Aku masih disini. Menunggu kamu mengatakan sesuatu padaku. Berharap kamu berubah fikiran untuk hanya sekedar pulang tanpa mempedulikan aku. Dan lagi-lagi kamu melakukan hal itu.
Tak mau berkata-kata, meski aku terbiasa banyak bicara.
Semoga wisuda ini adalah ujungnya, dimana kamu pulang dengan setelan jas dan dasi merah itu. Bawalah pergi semua penantianku, jangan biarkan wanita lain merasakan hal yang sama seperti aku.
Jagalah dia dengan baik, jangan sakiti dia. Jangan biarkan dia menunggu, jangan biarkan dia terluka, jangan biarkan dia khawatir dengan keadaanmu. Jadilah pelindung untuknya, biarkan dia tetap menjaga hatimu.
Aku sudah berhenti. Setelah aku benar- benar melihat bayanganmu pergi membawa semua penantian 6 tahun itu.
Tak harus banyak bertanya
Cukup menunggu reda
Pada sinar dari bintang
Pada rembulan yang terang benderang
Tolong sampaikan padanya
Aku telah sampai
Aku telah selesai
Berdiri dengan kakiku sendiri
Bersimbah darahku sendiri
Getar jiwa seraya bergema
Mundurlah
Aku sudah di depan masa
Pergilah
Bawa semua penantian itu
Jangan pernah kembali
Lagi.
Jika kamu, masa laluku, membaca tulisan ini, maaf. Aku membuatmu kecewa lagi. Namun terimakasih. Untuk semua itu. Aku tak bermaksud memutuskan silaturahmi, hanya saja aku ingin kita mengenal dengan cara masing-masing. Dan Tuhan, terima kasih juga. Telah menciptakan dia dengan sebaik baiknya dan mempertemukan aku dengannya. Tak henti aku mengucap syukur, semoga ini bukan akhir dari segalanya.
Aku akan melangkah. Belajar lagi memulai sesuatu yang baru, tanpa menutup buku. Terima kasih, 6 tahun kemarin sangat berarti, meski.hanya untukku. Sukses selalu, doaku selalu bersamamu.